![]() |
| Ilustrasi: Freepik.com |
Perkembangan teknologi memang hal yang memudahkan manusia. Namun, jika tak diiringi dengan kemampuan beradaptasi maka akan berujung malapetaka. Fenomena ini disebut sebagai cultural lag, di mana teknologi jauh berkembang pesat dibanding kemampuan adaptasi manusia.
Hal ini tentu berdampak bagi ekosistem budaya lokal. Kemajuan teknologi dalam wujud media sosial memungkinkan masuknya nilai-nilai budaya luar dengan mudah. Masyarakat yang belum siap menghadapi hal ini akan tergerus oleh budaya luar dan kehilangan identitas budaya lokal.
Fenomena cultural lag di media sosial dapat mengancam pelestarian budaya lokal. Terlebih bila masyarakatnya masih belum sepenuhnya teredukasi dengan baik. Budaya lokal terancam punah, dan problematika homogenisasi budaya global semakin nyata.
Masyarakat perlu mengantisipasi hal ini. Pemahaman akan ruang digital yang semakin bebas dan kekhawatiran akan ironi terkikisnya budaya bangsa perlu dihadapi. Sebab kelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Sedikit aksi untuk tetap lestari akan berarti.
Apa Kabar Budaya Bangsa?
Perkembangan media sosial semestinya dibersamai dengan rasa cinta tanah air, sehingga fenomena cultural lag dapat dihindari. Sayangnya, penanaman nilai-nilai budaya lokal masih sangat minim. Sebagian besar masyarakat yang belum paham sepenuhnya budaya lokal sudah terpapar budaya luar lebih dulu.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan skor Indeks Pembangunan Kebudayaan yang diperoleh pada 2023 sebesar 57,13 poin. Data ini cukup menggambarkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya mampu mengembangkan budaya lokal di tengah peradaban zaman.
Budaya lokal kian terkikis. Nilai-nilai dan identitas bangsa lambat laun pun memudar. Inilah wujud ketidaksiapan masyarakat Indonesia dalam berhadapan dengan perkembangan teknologi seperti media sosial.
Jejaring media sosial membuat masyarakat mengenal budaya luar tanpa mengenali budaya di tanah lahir sendiri. Fenomena cultural lag melahirkan asimilasi budaya dan mengaburkan indentitas serta nilai-nilai asli yang tertanam sejak lama.
Budaya luar yang masuk tanpa batas melalui ruang digital di media sosial justru lebih banyak digemari oleh kawula muda generasi penerus bangsa. Mereka justru lebih tertarik untuk mempelajari budaya luar.
Berdasarkan Survei Hallyu Luar Negeri 2024 di bawah naungan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, Indonesia ada dalam posisi pertama sebagai negara dengan tingkat ketertarikan tertinggi terhadap Korea, yaitu sebesar 86,3%.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding skor Indeks Pembangunan Kebudayaan di Indonesia. Hal ini membuktikan fenomena cultural lag pada media sosial kian melonjak. Budaya luar yang menyebar dengan bebas pada media sosial kini semakin berkembang dan perlahan tertanam di Indonesia.
Selain itu, mewabahnya fenomena cultural lag ini juga semakin diperparah dengan informasi-informasi palsu yang bertebaran di media sosial. Kementerian Komunikasi dan Digital RI mengungkap data hoaks sepanjang tahun 2024 mencapai 1.923.
Informasi-informasi tak benar mengenai budaya lokal tentu akan semakin menyesatkan masyarakat yang belum sepenuhnya teredukasi. Tradisi Indonesia yang sarat akan nilai-nilai moral dapat tercemar oleh berita yang tidak benar.
Fenomena cultural lag di media sosial ini semakin didukung dengan persepsi buruk yang diciptakan oleh masyarakat Indonesia terhadap budaya mereka sendiri. Sebagian besar masyarakat masih menganggap tradisi lokal adalah hal yang kuno dan ketinggalan zaman.
Padahal, beberapa budaya lokal di Indonesia justru diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Contohnya seperti keris, wayang, batik, angklung, tari saman, tari tradisional bali, dan sebagainya.
Budaya Indonesia tidak akan pernah maju jika masyarakatnya tak ingin belajar terhadap perkembangan teknologi yang ada. Perkembangan media sosial harusnya sejalan dengan perkembangan budaya suatu negara.
Sedikit Aksi Untuk Tetap Lestari
Fenomena cultural lag di media sosial harus dihindari. Media sosial selayaknya dapat dijadikan sebagai alat untuk memperkuat pemahaman lintas budaya. Menghargai suatu budaya bukan berarti mengadopsi budaya tersebut tanpa tebang pilih.
Media sosial adalah sarana edukasi untuk mengenal dunia luar. Media sosial sebagai jendela dunia untuk meningkatkan kecerdasaan bangsa. Namun, perlu diingat bahwa konsumsi budaya luar hanya sebagai sarana memperluas ilmu pengetahuan, dan tidak menggeser budaya lokal.
Kesadaran akan budaya lokal perlu ditingkatkan. Sehingga, meskipun dihadapkan dengan berbagai macam budaya luar yang masuk melalui media sosial, masyarakat tetap dapat menjaga dan melestarikan budaya sendiri.
Ruang digital di media sosial dapat dimanfaatkan sebagai alat promosi budaya lokal. Melalui konten-konten edukasi yang unik, semakin banyak masyarakat yang paham akan budaya Indonesia. Dengan begitu kekayaan nusantara akan semakin dikenal.
Wujud nyata pemanfaatan ruang digital untuk edukasi budaya lokal telah dibuktikan oleh Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company. Sebuah korporasi yang melahirkan beragam karya tari dan pertunjukan musikal nusantara.
EKI Dance Company naik daun berkat pertunjukan musikal “Lutung Kasarung”. Menampilkan cerita rakyat nusantara, EKI Dance Company menyihir penonton dengan teater musikal yang dikemas secara modern.
Beberapa cuplikan pertunjukan musikal “Lutung Kasarung” pun berhasil meraup jutaan penonton di Instagram.Bukan hanya sebagai alat promosi, momen ini dimanfaatkan oleh EKI Dance Company sebagai edukasi budaya lokal di media sosial.
Hal ini tentu dapat meningkatkan kesadaran sosial untuk menjaga budaya bangsa. Semakin dikenal, semakin banyak masyarakat yang mulai memperhatikan eksistensi budaya lokal.
Penggunaan media sosial dalam pelestarian budaya lokal juga dapat membuka pintu kolaborasi antarbudaya. No Na, girl group dari label musik 88rising berhasil membawa budaya Indonesia dikenal mancanegara.
Dalam Dance Practise Video lagunya yang bertajuk “Falling In Love”, No Na menyisipkan tari Bali yang dipadupadankan dengan modern dance. Video ini kemudian berhasil meraih hingga 700 ribu lebih penonton di YouTube.
Pertunjukan Musikal Lutung Kasarung dan girl group No Na hanya sebagian kecil dari beribu cara yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan budaya bangsa. Tak hanya di bidang tari, melestarikan budaya dapat diupayakan dengan berbagai alternatif.
Contohnya saja di bidang fashion, saat ini ramai anak muda digandrungi Outfit Of The Day (OOTD) Trends. Ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk memperkenalkan pakaian nusantara, penggunaan batik yang dibalut dengan modern style misalnya.
Media sosial bukan sebagai sarana untuk mengetahui budaya luar saja. Melalui jejaring yang luas, masyarakat Indonesia juga dapat memanfaatkan Media sosial untuk pelestarian budaya lokal. Indonesia juga bisa mengenalkan budaya-budaya lokal di mata dunia.
Tanpa sadar, hal-hal kecil tersebut membawa dampak besar untuk kemajuan budaya bangsa. Melalui sedikit aksi, budaya Indonesia akan semakin lestari. Fenomena cultural lag bukan hal yang perlu ditakuti. Dengan kesadaran bersama, budaya akan abadi dalam ruang digital.
