Ciri Stres Pada Kucing


Hewan peliharaan kucing/Foto: Debby Alifah Maulida

LIFESTYLE - Kucing bukan sekadar hewan peliharaan atau objek hiburan. Layaknya manusia, kucing juga dapat mengalami stres. Stres pada kucing disebabkan oleh berbagai faktor. Perubahan lingkungan hingga kurangnya interaksi dengan manusia dapat memperbesar kemungkinan terjadinya stres pada kucing. 

Merawat kucing nyatanya tak semudah yang diekspektasikan oleh banyak orang. Merawat kucing dengan baik bukan hanya memberi makan atau minum agar tetap hidup. Selain raga, kesehatan emosional kucing juga perlu dijaga. 


Kualitas makanan yang diberikan pada kucing memang berpengaruh untuk kesehatan tubuhnya. Namun, jika tak dibersamai dengan keadaan emosional kucing yang stabil, kucing akan mudah stres. Hal ini tentu akan berdampak pada perubahan perilaku kucing. 


Dilansir dari jurnal Amerika berjudul “Stress in owned cats: behavioural changes and welfare implications”, stres pada kucing dapat menyebabkan Anoreksia. Sebuah keadaan di mana kucing mengalami penurunan atau bahkan kehilangan nafsu makan. Jika dibiarkan, Anoreksia berpotensi menciptakan kondisi medis yang serius pada kucing. 


Oleh sebab itu, pemilik kucing harus memiliki kesadaran untuk merawat kucing secara fisik dan emosional. Pemilik kucing dituntut memiliki kepekaan, terutama pada perubahan perilaku yang menandakan bahwa kucing sedang stres. Penasaran bagaimana perilaku kucing ketika stres? Yuk, kenali ciri-cirinya di bawah ini! 


1. Suka Bersembunyi

Ketika stres, kucing akan bersembunyi dalam waktu yang lama. Aktivitas bermain tak lagi menyenangkan untuk kucing. Kucing lebih memilih untuk menjauhkan diri dari keramaian dan bersembunyi di tempat-tempat kecil. 


Hal ini tentu berbeda dengan sikap kucing yang suka mengeksplorasi. Kucing biasanya suka mencoba banyak hal. Kebiasaan menjatuhkan barang atau memangsa hewan kecil terkadang memang membuat pemilik jenuh dan kesal. 


Itu adalah hal yang wajar. Naluri kucing sebagai pemangsa akan tetap aktif meskipun jarang berkegiatan di luar. Namun, hal yang perlu diwaspadai adalah ketika kucing bertindak sebaliknya. Kucing yang suka mengurung diri dan jarang beraktivitas dapat menjadi tanda bahwa ia sedang stres. 


2. Sering Mengeong

Tak hanya saat sedang lapar, kucing juga akan lebih berisik ketika sedang stres. Perilaku kucing dalam mengeong sebetulnya adalah hal yang wajar, jika hal tersebut dilakukan dalam frekuensi yang normal. 


Kucing biasanya akan mengeong bila merasa lapar atau haus. Selain itu, kucing juga terbiasa mengeong jika sedang dalam posisi terancam. Saat berkelahi dengan kucing lain misalnya. Kucing yang mengeong dalam kondisi tertentu seperti di atas adalah hal yang normal. 


Namun, bila kucing mengeong dalam frekuensi yang cukup sering, hal ini dapat dikategorikan sebagai stres. Terlebih jika kucing melakukan hal tersebut tanpa dasar yang jelas. 


3. Bertindak Kompulsif 

Kucing jadi lebih sering berperilaku kompulsif ketika sedang stres. Perilaku kompulsif adalah perilaku yang dilakukan oleh hewan secara berulang akibat suatu penyakit atau karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan. 


Salah satu gangguan kompulsif yang sering dialami oleh kucing adalah Feline Hyperesthesia Syndrome (FHS) atau Sindrom Hiperestesia Kucing. Pada sindrom ini, kucing menunjukkan perilaku yang tidak biasa dilakukan secara tiba-tiba. 


Sindrom ini dapat dikenali dengan beberapa perilaku kucing yang dilakukan secara intensif. Kucing jadi lebih sering menjilat bulunya sendiri, mencakar, atau berlari dengan tiba-tiba. 


4. Buang Urin Sembarangan

Saat stres, kucing tidak dapat mengontrol aktivitas buang air kecilnya dengan baik. Meski sudah disediakan tempat untuk buang air kecil, kucing yang stres cenderung membuang urinnya sembarangan. 


Kucing biasanya sering membuang urin sembarangan ketika sedang masa birahi, khususnya pada kucing betina. Namun, buang urin sembarangan juga dapat menjadi tanda stres pada kucing. 


Biasanya, kucing yang sedang stres membuang urinnya pada permukaan yang tegak lurus atau vertikal. Contohnya seperti tembok, sofa, meja kursi, dll. Hal ini dilakukan oleh kucing secara berulang dan cukup sering. 


5. Turunnya Nafsu Makan

Penurunan nafsu makan adalah salah satu tanda stres pada kucing yang mudah dikenali. Fenomena ini disebut sebagai anoreksia pada kucing. Turunnya nafsu makan akan membuat kucing kehilangan asupan baik dalam tubuhnya. 


Jika dibiarkan, anoreksia pada kucing dapat menyebabkan lipidosis hati yang berakibat fatal. Kondisi ini mengakibatkan menumpuknya lemak secara berlebih di dalam sel-sel hati kucing. 


Oleh karena itu, pemilik harus lebih memperhatikan jadwal makan kucing secara teratur. Jika kucing menolak untuk makan selama beberapa hari, ada baiknya untuk segera dibawa ke dokter hewan agar lekas ditangani. 


Nah, sekarang sudah tahu, kan indikasi stres pada kucing? Jadi, mulailah untuk peka terhadap kucing di sekitar ya!


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama