Dilema Gizi Buruk Anak Melanda Dunia

 

Foto: Kementerian Kesehatan RI

FEATURES - Kesehatan anak-anak di dunia perlu diprioritaskan. Tingginya stunting dan polio yang terjadi pada anak menunjukkan kurang maksimalnya perhatian dunia terhadap kesehatan anak-anak.

“Tingginya tingkat stunting pada anak-anak di dunia merupakan masalah kesehatan yang sangat serius dan mencerminkan ketidaksetaraan dalam akses terhadap gizi yang baik, sanitasi, dan layanan kesehatan,” ucap Isra Intania Mulya, mahasiswi Politeknik Kementerian Kesehatan Indonesia.

Anak-anak merupakan cikal bakal generasi bangsa. Anak-anak adalah penerus budaya dan masa depan sebuah negara. Namun, jika kesehatan anak-anak tidak diutamakan, bagaimana nasib negara-negara di dunia ke depannya? Pencegahan terhadap berbagai macam penyakit dan virus yang memungkinkan dapat menyerang anak perlu ditingkatkan.

Stunting dan polio bukan saja permasalahan kesehatan yang dapat diremehkan pada anak. Stunting dan polio pada anak dapat menyebabkan gangguan kognitif dan memperlambat proses belajar anak. Anak yang seharusnya dapat berkembang akan terhambat prosesnya akibat penyakit tersebut.


Setiap anak berhak untuk mendapatkan kesehatan yang layak. Hal ini tentu bukan tanggung jawab orang tua saja. Setiap negara perlu memastikan dengan baik generasi penerusnya dapat menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya. Negara mengambil peran yang sangat besar untuk menciptakan bibit-bibit unggul di masa depan.

“Meskipun beberapa negara sudah melakukan upaya untuk mengurangi angka stunting, tantangan besar masih ada, terutama di negara-negara berkembang,” tutur Intan.

Indonesia menjadi contoh minimnya kesehatan yang layak pada anak-anak. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023, prevalensi stunting nasional sebesar 21,5 persen, turun sekitar 0,8 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya. Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI.

Angka tersebut tidak sesuai dengan target penurunan stunting di Indonesia, yakni sebesar 14% pada tahun 2024. Bukannya semakin tinggi, persentase penurunan stunting di Indonesia justru semakin rendah. Dengan data tersebut, Indonesia dapat menjadi contoh buruk bagi negara- negara di dunia dalam menangani masalah kesehatan pada anak.

“Kemiskinan dan ketidaksetaraan juga memainkan peran besar dalam masalah ini, karena orang tua yang hidup dalam kemiskinan sering kali tidak memiliki akses terhadap makanan bergizi dan layanan kesehatan yang memadai,” ucap Intan.

Buruknya gizi pada anak juga disebabkan oleh ketidakmampuan dalam memberikan anak kebutuhan dan kelengkapan gizi yang baik. Pemerintah harus dapat menaruh perhatian lebih terhadap pemenuhan gizi anak. Pasalnya, masih banyak orang tua yang memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sudah sulit.

Layanan kesehatan yang masih belum ramah untuk kalangan menengah ke bawah juga menjadi alasan sulitnya orang tua dalam memenuhi gizi anak. Beberapa program yang digadang-gadang akan memberikan bantuan untuk gizi anak nyatanya juga tak diberikan secara merata, justru lebih banyak yang salah sasaran.

Praktik korupsi dalam pendanaan program pemenuhan gizi anak di beberapa daerah juga sangat memukul realitas hidup sehat anak-anak Indonesia. Dana yang seharusnya cukup untuk alokasi pemenuhan kebutuhan gizi anak secara merata di seluruh daerah justru dijadikan alat monopoli para penguasa.

“WHO sebaiknya terus meningkatkan kampanye global untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi yang baik selama periode kritis tumbuh kembang anak. Mereka juga perlu bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga-lembaga internasional untuk memastikan akses yang lebih luas terhadap makanan bergizi,” jelas Intan.

Kesadaran terhadap kesehatan anak-anak adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya orang tua, pemerintah dan lembaga terkait juga perlu membuka mata dan melirik fenomena menyedihkan ini. Akses terhadap makanan bergizi jangan sampai dipersulit apalagi dikorupsi untuk keuntungan pribadi.

Selain itu, sosialisasi secara menyeluruh juga perlu dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah gizi buruk pada anak. Sosialisasi ini dapat dilakukan baik melalui kepala daerah setempat maupun melalui media sosial. Media sosial kini menjadi akses termudah dan tercepat dalam menyebarkan informasi, salah satunya untuk sosialisasi mengenai pencegahan gizi buruk anak.

“Harapan saya adalah agar setiap anak di dunia memiliki akses yang sama terhadap gizi yang baik, lingkungan yang sehat, dan layanan kesehatan berkualitas” pungkas Intan.

Intan turut mengungkapkan salah satu langkah dalam pencegahan gizi buruk pada anak dapat dilakukan dengan meningkatkan pendidikan kesehatan di Indonesia. Semakin banyak masyarakat yang teredukasi, maka semakin banyak pula masyarakat yang peka dalam menjaga kesehatan anak-anak di Indonesia.

Selain itu, Intan juga menyarankan agar program pendidikan tentang perawatan anak dan kesehatan ibu untuk diperluas. Ibu yang sehat dan teredukasi akan melahirkan anak-anak yang sehat juga. Oleh sebab itu, pendidikan perawatan anak tak hanya dilakukan sejak anak lahir saja, tetapi ketika anak masih di dalam kandungan.

Stunting perlu diatasi bersama. Stunting bukan masalah pada anak saja, melainkan sebuah penghambat untuk majunya generasi yang akan memimpin masa depan sebuah negara. Bukan anggaran dewan saja yang perlu dinaikkan, anggaran kesehatan anak pun perlu menjadi perhatian.

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama