![]() |
| Ilustrasi Artificial Inteligence/Foto: Freepik.com) |
FEATURES - Tak ada gading yang tak retak, AI (Artificial Intelligence) bukan teknologi sempurna. Penyalahgunaan AI bisa saja berujung malapetaka. Belakangan ini, ramai pembuatan video dengan memanfaatkan AI. AI dengan mudah meniru suara dan rupa manusia. Kecanggihan teknologi ini tentu dapat menimbulkan tingginya risiko kejahatan AI.
Kondisi ini diperburuk dengan kebijakan AI di Indonesia. Regulasi AI hanya ditekankan dalam Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial. Sementara, belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur AI secara spesifik.
Regulasi AI perlu mendapat lirikan khusus oleh para pemangku jabatan di pemerintahan. Indonesia dapat berkaca pada pemerintah Eropa. Eropa telah menerbitkan Undang-Undang khusus yang mengatur tentang kecerdasan buatan, yaitu EU AI ACT. Dilansir dari laman resmi komisi Eropa, regulasi ini sudah berlaku sejak 1 Agustus 2024.
Bukan sekadar masalah sosial politik saja yang digembleng, masalah teknologi pun perlu payung hukum. AI yang disalahgunakan beresiko tinggi memanipulasi data dan merugikan banyak pihak.
AI Dijajah Manusia, Manusia Diperdaya AI
AI dijajah manusia, dan manusia diperdaya AI. Inilah kenyataan pahit penggunaan AI tanpa regulasi hukum di Indonesia. Surat edaran tak akan cukup menjadi tameng bahaya penggunaan AI di Indonesia.
Pemerintah harus sadar regulasi hukum AI yang samar tak hanya membahayakan manusia, tetapi juga pada AI itu sendiri. AI adalah mesin hasil teknologi yang bisa rusak dan rapuh kapan saja. Masuknya permintaan yang begitu melonjak terhadap AI juga dapat membuat AI berhenti bekerja.
“Kita menyadari ada masalah tersebut, kadang bikin conversation aneh akhirnya karakter AI ada yang meninggal dunia karena dia memvalidasi apa yang kamu inginkan. Dia tidak Tahu batasan bahwa sesuatu itu bahaya, dia helpfull tapi tidak tahu batasan jadi harmfull,” tutur Derry Wijaya, Associate Professor Monash University, dilansir dari laman resmi Marketing MicroStar International (MSI).
Bahaya AI sangat luas. Salah satu contoh AI yang sering disalahgunakan adalah Chat GPT. AI yang satu ini dapat menjadi pemecah masalah untuk menemukan jawaban dengan waktu singkat. Cara kerjanya sama seperti Google, tetapi hasil yang didapatkan lebih detail. Chat GPT tidak dirancang untuk menolak permintaan manusia.
Ketika Chat GPT diminta melakukan suatu hal yang buruk, maka mustahil bagi Chat GPT untuk menolaknya. Hal ini disebabkan oleh sistem yang terdapat pada Chat GPT yang memang dirancang untuk selalu memberikan jawaban dan solusi dari pertanyaan yang diajukan oleh manusia. Hal ini tentu sangat berbahaya.
“Sebenarnya dia auto complete. Banyak aplikasi dipakai dimana-mana tapi pada dasarnya dia berusaha men-complete sentence kita. Dia akan berusaha membantu kita make up jawaban, mengarang jawaban, walaupun dia tidak tahu ini bisa menyebabkan disinformation,” ucap Derry Wijaya.
Derry menjelaskan, AI akan selalu mengikuti perintah yang diberikan oleh manusia. AI akan bersikap acuh tak acuh terhadap ketepatan data yang disajikan. Bagi AI, yang utama adalah melayani permintaan manusia dan memberikan hasil yang diinginkan tanpa meriset kembali apakah data tersebut sudah betul atau belum.
“Kalau kita suruh Chat GPT menghina salah satu suku di Indonesia, dia akan menghina. Itu bahaya Chat GPT,” ungkap Derry Wijaya.
Terkuburnya Potensi AI di Indonesia
Indonesia sebetulnya punya potensi besar untuk mengembangkan AI. AI tak berbahaya apabila digunakan dengan tepat. Namun, potensi yang bagus tidak akan pernah terwujud bila pemerintah tak mampu mendukung perkembangan AI di Indonesia.
Untung rugi hadirnya AI di Indonesia pun perlu diperkirakan. Sehingga ketika merancang sebuah peraturan perundang-undangan terkait batasan penggunaan AI di Indonesia, pemerintah dapat menghasilkan kebijakan yang seimbang. Indonesia butuh regulasi yang mengatur, tetapi tidak mematikan AI.
“Daripada kita berdebat pro kontra, manfaat sisi gelap, negatif positif, saya bilang dua-duanya ada. Percuma kita berdebat negatif positif, dua-duanya ada, dan government harus lebih memetakan mitigasinya apa ketika itu terjadi. Kita harus punya suatu mindset untuk menanggapi sesuatu dengan dua perspektif,” jelas Karim Taslim, Ketua Komtap AI Aptiknas, dilansir dari laman resmi Marketing MicroStar International (MSI).
Taslim menambahkan, potensi Indonesia dalam memberdayakan AI sudah mulai terlihat. Sudah banyak perusahaan-perusahaan dan pemerintah yang menggunakan AI sebagai alat bantu. Namun, pengoperasian AI di Indonesia terkadang masih memakan waktu lama akibat pemerintah masih abai terhadap regulasi dan perkembangan AI di Indonesia.
Selain untuk melindungi masyarakat Indonesia dari bahaya AI, regulasi AI pun diperlukan untuk memberdayakan potensi AI yang ada di Indonesia. Dengan begitu, para pengguna AI dapat memaksimalkan pekerjaannya dan menghasilkan produk terbaik AI untuk kemajuan teknologi di Indonesia.
Pemerintah harus menjamin kesejahteraan para ahli teknologi negeri ini. Sebab merekalah yang akan menjadi guru dan cikal bakal terbitnya setitik cahaya terang untuk kemajuan AI di Indonesia. Sumber daya manusia yang tersedia harus dimanfaatkan dan difasilitasi sebaik mungkin. Lahirnya ahli teknologi AI tentu akan mempermudah segala proses perkembangan AI.
“Contohnya industri otomotif, lagi produksi terus rusak, ketemu 1 part kecil yang harus diganti tapi tidak ada stoknya. Ujung-ujungnya harus pesan ke Jepang selama 1 bulan. Karena itu produksi tidak jalan,” pungkas Taslim.
Hal-hal seperti itu kerap terjadi karena sumber daya manusia di Indonesia tidak dipersiapkan untuk menciptakan suatu teknologi, tetapi mengonsumsi teknologi dengan mata tertutup. Akibatnya, produk AI di Indonesia akan terus terhambat karena masih bergantung dengan produk luar.
Regulasi AI di Indonesia harus membatasi produk-produk AI luar yang masuk dan memaksimalkan produk-produk AI dalam negeri. Regulasi hukum AI ke depan harus dapat mencegah ketergantungan terhadap produk-produk luar dan melahirkan ahli-ahli teknologi baru yang menjanjikan masa depan AI Indonesia.
